Layang-Layang Milikku

Slamet Sukirnanto

Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?

Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.

Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.

1966

Iklan

Catatan Harian Seorang Demonstran

Slamet Sukirnanto

Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik matahari kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.

Tertegun di tengah galau beribu massa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku
Telah direbut demonstran di sampingku

Udara panas kota Jakarta
Kulihat ciliwung tetap coklat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?

Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.

1966

Sungai Musi

Slamet Sukirnanto

Malam-malam : menyusuri Musi
Bulat bulan tenggelam dalam sekali
Yang kutangkap dari keruh kali
Wahai – mengendap!

Kau tahu, saudaraku ? Derum stempel
Ujungnya menusuk ombak.Membelah kolam di muka
Jung-jung rakit berdesak sempoyang pergi
Berkayuh dengan gapai dayung jadi
Menyusup kabut yang enggan berganti!

Gemerlap lampu-lampu, penerang gubuk-gubukmu
Bermain dipermukaan arus! Dan hati tak mau tembus
Di sini pada mulanya tersendat berhenti!

Kala kota: masih berpanas sekali
Spanda! Seorang lelaki menjejak tepi!